Rabu, 05 Desember 2012

Tips and trik persiapan magang or kerja praktek

Beberapa hari tanpa inspirasi tanpa ide membuat tak ada tulisan yang saya post. Now, I just wanna share my experience, esp magang.
2 bulan sudah saya menjadi warga sementara kota Cilegon dan mengalami pahit manisnya menjadi anak kostan :D. Betah gak betah ya harus betahhh. Sekarang saya mau share hal apa saja yang harus kita persiapakan untuk magang atau kerja praktek (untuk adik-adik kelas di manapun kalian berada).
1.     Tentukan industri apa yang ingin kita tuju sebagai tempat magang or kerja praktek setahun sebelum waktu magang yang ditentukan. Pilihlah sesuai bidang keahlian kita yang kita sukai, kita kuasai, dan sebisa mungkin industri yang di tuju adalah industri yang kalian cita-citakan untuk bekerja di sana setelah kita lulus nanti (kalo gak kesampean minimal yang mendekati *curcol* hehehe).
2.    Setelah kita menentukan industri tujuan, segeralah mencari info mengenai industri tersebut seperti alamat industri, nomor telfon yang dapat dihubungi, email HR yang dapat dituju, proses yang ada di industri tersebut, bahkan sampai hal-hal kecil tapi penting seperti fasilitas kendaraan antar jemput, tempat tinggal, makan siang dan uang saku bulanan. Kita dapat mencari tahu dari kaka tingkat yang sebelumnya pernah magang or kerja praktek di tempat tersebut atau alumni yang kerja di industri tersebut.
3.    Setelah mendapatkan info yang jelas dan yakin untuk memilih idustri tersebut segeralah kirim surat dan proposal magang or kerja praktek yang dibuat oleh pihak jurusan atau sekolah untuk anak SMK. Surat dan proposal dapat dikirim via fax, email, pos, atau datang langsung ke industri tersebut. Biasanya saran dan proposal ditujukan kepada HRD atau kepala bagaian tempat magang yang dituju. Setelah kita mengirim surat dan proposal pastikan surat telah sampai kepada orang yang kita tuju dengan menelfon. Hal yang penting dalam mengirim surat atau proposal adalah dilakukan minimal beberapa bulan sebelumnya, baiknya 6 bulan sebelumnya bahkan ada industri yang meminta setahun sebelumnya. Hal ini penting dilakukan karena yang ingin melakukan magang or kerja praktek di industri tersebut tidak hanya univ/instansi kita tapi dari berbagai univ/instansi se Indonesia. (istilahnya kita itu rebutan tempat dan waktu magang)
4.    Setelah surat dan proposal telah dikirim berdo’alah agar surat kita segera direspon. Jangan berfikir bahwa pihak industri memiliki banyak waktu luang sehingga akan cepat merespon apa yang kita inginkan. Beberapa pengalaman teman ada industri yang merespon lambat bahkan tidak merespon sama sekali. Untuk mencegah hal tersebut lakukan follow up atas surat yang telah kita kirim seperti menelfon pihak industri minimal setiap minggu. Jika industri tidak merespon sebaiknya kita mencari industri cadangan dan mengirimkan surat dan proposal baru segera setelah minta surat penolakan tentunya. Maka dari itu penting untuk mencari industri cadangan untuk persiapan siapa tahu kita ditolak di industri tujuan pertama.
5.    Setelah kita mendapatkan keputusan diterima di industri tujuan via telfon atau email, mintalah surat resmi sebagai tanda bukti untuk pihak jurusan/kampus bahwa kita telah mendapatkan tempat magang.
6.    Hati sudah plong plus lega karena sudah mendapatkan tempat magang or kerja praktek selanjutnya kalian dapat bersantai beberapa saat sambil mempersiakan segala dokumen yang dibutuhkan.
7.    2 bulan menuju keberangkatan menuju industri tujuan magang, carilah informasi mengenai kota industri berada seperti info tempat tinggal, info kendaraan, info makanan dll.
8.    Pastikan seminggu sebelum waktu memulai magang kalian telah mendapatkan tempat tinggal entah itu kostan, mes perusahaan atau numpang sodara. Pilihlah tempat tinggal yang nyaman, tidak terlalu jauh dari industri dan sesuai budget yang kita miliki.
9.    Khusus untuk kita yang magang di luar kota dan ngekost, bawalah barang-barang yang sekiranya dibutuhkan (jangan kebanyakan bawa barang tapi gak penting). Kebanyakan kota tujuan adalah kota industri yang pasti panas seperti cikampek, karawang, cikarang, bekasi, cilegon, dll. So, kita harus bawa kipas angin atau sewa kostan ber AC (*penting bgt*). Bukan cuma panas tapi banyak nyamuk juga, jadi penting bawa selimut tipis karena pakai obat nyamuk biasanya gak mempan (saking ganasnya nyamuk di daerah industri, *untungnya kostan saya bebas nyamuk*)
10. Sebaiknya kita sudah berada di kostan 2hari sebelum waktu magang dimulai untuk beradaptasi.
That’s all, semoga membantu..
NB: tips and trik magang or kerja praktek saya tulis di halaman lain ya,..

Sabtu, 01 Desember 2012

Ikut AIESEC



Ada yang tahu apa itu AIESEC? Saya bisa saja jelaskan tapi akan memakan halaman jadi  buat kalian yang belum tahu silakan googling saja *peace*. Intinya AIESEC adalah sebuah organisasi anak muda sedunia (gede banget kan?) yang ada di ratusan negara. AIESEC memiliki program student exchange ke beberapa negara yang tersebar di dunia. Awalnya yang saya tahu hanya “AISEC memiliki program exchange dan bisa menjembatani keinginan saya go Eropa”. 

Entah ada ilham dari mana akhir tahun 2011 saya iseng mendatangi stand AIESEC yang ada di kampus. Dengan informasi alakadarnya saya nekat beli formulir pendaftaran (*jegerrrr). Berhubung hari itu adalah hari jum’at dan hari sabtu adalah hari penutupan pendaftaran jadi saya diwajibkan mengembalikan formulir besoknya (*duaaarrrrr). Hanya semalam waktu yang saya miliki untuk mengisi kurang lebih 8 lembar form yang semuanya harus di isi in English (ya iya lah, orang exchange nya ke luar negeri).
Bermodalkan bahasa inggris pas-pasan dan amburadul (*toefel pertama saya ada diantara 400-500 jadi gak nyampe di 500) saya mengisi lembar demi lembar. Seinget saya ada form indentity (mirip-mirip CV), experience (pengalaman berorganisasi dan prestasi), describing (menjelaskan diri sendiri dengan gambar, dll), pilih negara tujuan, alasan, dll. Pokoknya lumayan bikin mikir karena bentuk paragraf dan in English pula.
Berhubung modal iseng sempat terpikir untuk tidak mengembalikan formulir. Tapi orang di dekat saya berkata “nothing to lose” (*belum ijin mom pula). Jreng jreng jreng keesokan harinya.. Saya datang mengembalikan formulir dan ikut acara penutupan plus ada beberpaa penjelasan tentang AIESEC (*ada bule juga lohh yang lagi exchange di Indonesia).
Intinya formulir ini diibaratkan sebuah lamaran dimana kita adalah pelamarnya. Yang namanya lamaran ada yang diterima dan ditolak kan? Jadi ini lah sesi penyaringan yang pertama. Jumlah test penyaringan ada 3 untuk bisa gabung dengan AIESEC. Pertama seleksi dokumen (dari form yang kita isi), ke dua  Forum Grup Discussion Test, ke tiga interview. (*inget disetiap tahap itu must in English yoooo).
Karena niat dari awal “nothing to lose” jadi mau lolos atau enggak gak masalah. Sampai beberapa minggu dari situ saya dapet sms (*saya terjemahkan aja ya biar gak ribet)
“selamat kamu telah melewati tahap seleksi satu, selanjutnya kamu harus mengikuti tahap dua di bulan ini tanggal ini. Silahkan kunjungi web dan isi form ini” (*saya tulis ini soalanya lupa, hehe)
Seneng tuh tapi bingung juga, toh awalnya iseng dan gak nyangka karena teman sekelas saya yang jago banget bahasa Inggrisnya gak lolos alhasil saya gak ada temen. Dan ada hal lucu lainya, sewaktu saya ikut acara penutupan saya sempet baca form pelamar lain dan Subhanallah sekali alasan dan tujuan mereka ikut AIESEC dan pengen exchange ke luar pada mulia. Mulai dari yang ingin memperkenalkan negara kita ke negara lain, ada yang ingin membantu program-program sosial seperti anti sex bebas, anti narkoba, dll. Kalian tahu isi di form saya apa? Alasan saya mengikuti AIESEC karena saya ingin menambah teman bule, menambah pengalaman tinggal di luar, dan bisa jalan-jalan alis traveling di eropa. Saya polos dan jujur banget ngisi itu form, saya bilang saya hobi traveling dan punya mimpi untuk keliling eropa, saya punya mimpi untuk melanjutkan kuliah S2 di Jerman jadi mau belajar tinggal di luar negeri dan mencari relasi yang mempermudah jalan saya mencapai mimpi. Saya bilang saya hanya tertarik dengan bidang enviromental untuk program exchange yang sesuai bidang kuliah saya karena yang agak nyambung cuma itu, yang lain pilihannya hukum, sosial, mengajar, (*bukan gue banget). Tapi saya lolos looohhhh, secara prestasi saya seuprit. (Eheheh masi bangga lagi).
Beberapa bulan pun berlalu dan hari tes ke dua pun datang. Berbekal bahasa Inggris pas-pasan saya PEDE dateng. Tapi sebelumnya saya telah mencari tahu mengenai sistem tes “Forum Grup Discussion”. Dari hasil googling, tes ini akan mempertemukan saya dengan orang-orang yang lolos tahap satu. Di dalam test ini kita akan dipisah menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok akan diberi tema dan diminta untuk berdiskusi dan menjawab beberapa pertanyaan dan membuat kesimpulan diskusi. Biasanya tema yang diberikan seputar info/brita terkini, contohnya: penjualan anak, sex bebas, dll. Hasilnya saya pun mencari beberapa informasi/ berita seputar tema sosial. Tes ke dua pun dimulai dan ternyata sistem tes ini memang seperti info yang saya dapatkan. Beberapa hari kemudian saya mendapat sms bahwa saya lolos tahap ini. WAW, Kaget! Mau tau kenapa?
Di hari tes berlangsung ternyata ada tes tulis seputar pengetahuan umum. Saya kaget bukan main karena pertanyaanya seputar “pengetahuan umum”, contohnya: siapakah pemenang grami award tahun 2011?, siapakah aktor ...., siapakah presiden negara ...... bagi saya ini sulit. Kenapa? Karena saya gak hobi nonton tv plus gak gaol banget soal info selebriti dunia. Alhasil saya menjawab asal-asalan untuk pertanyaan yang saya tidak tahu jawabannya (*untungnya masi PG soalnya, jd ngitung kancing). Hal yang lain adalah, saya mendapatkan tema seputar Marijuana legalization (*langsung syooook). Lagi lagi kaget dengan hal yang didapat karena sebelumnya yang saya pelajari tidak sama sekali berhubungan dengan hukum-hukum penggunaan Marijuanan/narkoba. Ketika diskusi berlangsung saya berbicara seadanya (*bla bla bla in English). Setelah mengikuti tes, saya pun pulang dengan keadaan pasrah. karenanya saat mendapat pengumuman saya syoook.
Tahap terakhir adalah interview, tahap ini adalah tahap yang bikin saya deg-degan setengah mati (*lebay). Ini adalah interview saya yang pertama dan in English. Seperti interview kerja, saya diminta untuk memperkenalkan diri, bercerita ini itu, menjawab beberpa pertanyaaan. Durasi interview yang disediakan sekitar 1-2 jam, berhubung interviewer saya terburu-buru alhasil kurang dari 30 menit interview berakhir (*dalem hati bilang “selamet-selamet”).
Beberapa minggu kemudian saya memdapatkan sms bahwa saya lolos tahap terakhir dan siap diterima sebagai anggota baru AIESEC.
Ada beberapa langkah yang harus saya lewati untuk dapat exchange ke luar. Pertama saya harus mengisi kontrak dan membayar biaya keanggotaan AIESEC 1,4jt. Ke dua saya harus mengikuti program-program yang dibuat oleh AIESEC LC Bandung sambil menunggu waktu exchange. Ke tiga saya harus masuk ke dalam data base dan memilih program-program AIESEC dan membayar uang 1jt. Setelah saya memilih program, negara tujuan, dan waktu, saya harus mengikuti tahapn seleksi oleh AIESEC negara tujuan,dll. Dan yang perlu diketahui *penting* AIESEC hanya menjembatani, tidak memfasilitasi sampai biaya transport, biaya hidup, dll. Tapi biasanya ada beberapa program yang memfasilitasi tempat tinggal dan unag saku. So, kalo mau go eropa minimal kalian pegang uang 25jt buat tiket pulang pergi atau mencari sponsor yang mau membiayai (*selai oratu pastinya).
Kontrakpun akhirnya ditangan, uang 1,4jt pun sudah dipegang. Jika saya menandatangani kontrak dan membayar uang keanggotaan, maka jalan saya untuk go exchange akan terbuka lebar. Tapi apakah yang terjadi? Saya bawa pulang kontrak saya, saya masih pegang uang saya, dan saya pulang. Saya memutuskan untuk tidak memilih jalan ini. Tepat, dari awal saya hanya iseng plus modal nekat, sekalipun ada jalannya. Pertama saya tidak ingin menyusahkan orang di sekeliling terutama ortu. Uang puluhan juta itu begitu besar bagi keluarga saya, mau dari mana jika saya tidak berhasil mendapatkan sponsor. Ke dua saya harus ijin 2-3 bulan untuk exchange dan itu bukanlah hal yang mudah bagi saya yang kuliah di POLBAN. Mengambil waktu liburan? Bisa saja tapi tetap saja ada beberapa minggu untuk ijin (*absensi dan nilai dipertaruhkan). Ke tiga saya tidak mau egois mengorbankan patner magang saya. Waktu untuk exchange kebanyakan di summer (bulan juni-agustus) sedangkan saya harus melaksanakan magang selama 3 bulan dan penelitian di semester 7 (*bulan agutus-januari). Tidaklah mudah untuk menunda atau mempercepat. Dan AIESEC memiliki batas exchange terakhir pada bulan februari untuk tahun 2012-2013. So, say goodbye for AIESEC. Saya tidak menyesal melepaskan kesempatan ini, karena keputusan ini saya buat dengan pemikiran yang matang, dan hasil ikhtiar saya pada Sang Pemilik. Saya yakin Dia memiliki rencana lain dan jalan lain untuk saya yang tentunya lebih indah. Go eropa, selalu ada dalam benak saya yang terlantun dalam setiap do’a.

Step by step


2 hari ini saya asik membaca sebuah blog seorang teman tak dikenal tapi secara garis besar kami memiliki passion yang sama. Sama sama pengejar beasiswa luar negeri (*senengnya gretongan). Kini dia sudah homestay di Jerman selama 10 bulan. Dia sukses menginspirasi saya untuk menuliskan hal-hal yang telah saya lakukan untuk meraih mimpi saya tentunya dengan jatuh bangun, kepleset, sampai guling-guling :p.
Buat kalian pembaca setia blog saya (*sambil mikir, ada yang sukain baca gak yah? Hehehe) masih ingat bukan tentang mimpi saya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri khusnya di Jerman? Mungkin banyak yang berfikir saya hanyalah “Sang Pemimpi” tanpa menjalani usaha realitas. Saya jawab dengan kencang, TIDAK. Saya telah membuat berbagai plan dan berbagai jalan alternatif untuk semua mimpi saya tapi belum saya tuliskan disini. Sekarang saya akan tuliskan beberapa saja yang telah saya lakukan untuk mengejar mimpi saya yang satu ini.
Universitas di Jerman atau negara manapun itu memiliki standar dan kualifikasi untuk menerima mahasiswa beasiswa di luar warga negaranya. Khususnya untuk uni eropa kebanyakan beasiswanya untuk yang berkewarganegaraan uni eropa. Tahu kan negara-negara yang termasuk uni eropa?
Hal apa saja yang sudah saya lakukan selama ini?

1.      Mencari informasi program beasiswa luar negeri
Saya telah mencari informasi program beasiswa luar negeri dari mbah google, beberapa web dab blog orang-orang penerima beasiswa, dan pameran-pameran scholarship. Tahun 2011 akhir saya menghadiri pameran scholarship disebuah universitas di daerah Dipati Ukur Bandung. Di dalam pameran tersebut terdapat belasan yayasan khusus scholarship dari berbagai negara dengan ratusan program (kalo semua digabung). Ada AMINEF (khusus yang tertarik ke Amerika), nuffic nesso (khusus Belanda), ERASMUS MUNDUS (uni eropa dan beberapa univ Amerika), British council (pastinya UK), DAAD (khusus Jerman, mirip kaya GOETHE), dan banyak lagi (berhubung saya tertariknya dengan negara barat jadi yang di asia gak di lirik. Heu :D). Dari beberapa pilihan yang ada, saya tertarik dengan DAAD dan ERASMUS MUNDUS. Teteup, Jerman adalah pilihan saya karena dari beberapa informassi yang saya dapatkan Jerman merupakan negara yang nyaman dan baik untuk mencari beasiswa. Hasil dari tanya sana dan tanya sini plus baca brosur kebanyakan beasiswa untuk program S2/S1, so kalo saya mau mabil S2 harus beresin dulu kuliah saya yang kelar tahun 2013 atau saya ngulang lagi ngambil S1. Rasanya males buanget kala harus ngulang S1, jadi saya putuskan untuk mengincar program S2 saja dengan syarat harus lulus dengan IPK tidak kurang dari 3.5 skala 4, TEFEL 550, atau IELTS 8.0, dll (*shock seketika).
Dalam hati saya berkata “masih punya 2thn untuk melengkapi persyaratan. SAYA PASTI BISA!”.

2.     Belajar Bahasa Jerman
Jerman merupakan negara yang memiliki bahasa nasional yaitu bahasa Jerman sehingga bahasa sehari-hari atau bahasa pengantar dalam perkuliahan menggunakan bahasa Jerman dan jarang ada univ yang memiliki bahasa pengantar bahasa Inggris. So, saya mulai cari tahu tentang bahasa Jerman mulai dari membeli buku-buku belajar cepat bahasa Jerman plus beli CD pengantar belajar bahasa Jerman dasar. Bulan-bulan awal saya rajin dan beberapa percakapan bisa saya lakukan dengan bahsa Jerman. Tapi berhubung saya belajar sendiri dan gak ada teman bicara jadinya muales. Ehehehehe,.. END

3.     Ikut AIESEC (lebih jelasnya saya tulis di blog yang beda yah)

4.     Belajar Bahasa Inggris
Setelah beberapa lama saya belajar bahasa Jerman dan niat ikut kursus ternyata sebuah fakta bahwa rata-rata syarat pengajuan beasiswa luar negeri selalu meminta sertifikat bahasa inggris dengan standar toefel diatas 550. Hasil saran dari kanan kiri, akhirnya saya menunda untuk mengikuti kursus bahasa Jerman yang biayanya lumayan. Saya beralih untuk memperlancar percakapan (conversation) dan memperbanyak kosakata bahasa Inggris (vocabulary).
Entah kenapa, awal tahun 2012 teman-teman di kelas saya terjangkit virus “english”, tiap hari sok-sok bahas suatu tema dan bercakap dengan bahasa Inggris. Virus ini pun menjangkkit saya, alhasil saya dan beberapa teman di kelas mengikuti kursus bahasa Inggris bersama-sama. Selama 3 bulan saya mengikuti kursus conversation, mendapati seorang guru yang pintar dan memiliki banyak pengalaman berkunjung ke berbagai negara, membuat saya semakin bersemangat. Namun, saya kecewa dengan sistem management tempat kursus ini yang belum rapih dan terstruktur sehingga untuk mendapatkan test kelulusan dan sertifikat sangatlah ribeeeeetttttt (*maklum, baru buka cabang di Bandung, tp harusnya tetep profesional). Hasilnya setelah kelas kursus saya selesei, ujian resmi belum dilakukan karena sistem management yang tidak jelas, sertifikat tidak didapatkan dan saya keburu pergi magang ke kota Cilegon. END. (yang penting ilmu selama kursus yahhhh, bukan sertifikatnya *ngehibur diri sendiri*)

5.     Mengejar IPK diatas 3.5 skala 4
Karena syarat mewajbikan pelamar beasiswa memiliki IPK “tertentu” mau tak mau saya harus mengejar IPK tersebut. Rata-rata program beasiswa memiliki syarat bahwa pelamar harus memiliki IPK di atas 3, bahkan ada yang 3.4. perjuangan demi perjuanagn telah saya lewati dan saya dapat meraih IPK diats 3.5, tinggal 2 semester tersisa menuju kelulusan dan  mempertahankan itu lebih sulit.

6.  Menyelesaikan kuliah tepat waktu
InsyaAllah 21 September 2013 saya diwisuda. Sekarang sedang berjuang dan menikmati masa kuliah yang kurang dari setahun lagi.